Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2010

Rengekan

Dalam dekapmu
aku hanyalah anak Tuhan
Tiap waktu menyusu mengecap manismu
Tapi tetap saja aku menangis
merengek tentang kebahagiaan
menangis.. menangis dan terus menangis
hingga KAU sodorkan kembali putingmu

Dalam pengawasanmu
aku adalah domba
yang kau gembalakan di ladang hijau
tapi tetap saja aku mengembik meminta-minta
memohon agar dilimpahkan padaku
rerumputan tanpa aku harus mengambilnya

Dalam dekapmu
aku adalah kekasih
tak pernah berterima kasih

Aku seperti pejuang yang terluka
padahal kemenangan telah diraih

Aku adalah yang menghilang dalam kesedihanku
Aku adalah wujud ketiadaan

Senin, 27 Juli 2009

Casuarina

Kenang aku diantara bintang-bintang
dan berdoalah untukku
barangkali akan datang padaku damai sejahtera

Karena hanya jiwa yang tenang yang mampu menjadi pelita
terbang mengangkasa laksana merpati suci
kembali ke tempat dimana ia bermula

Maka janganlah kau lenyapkan aku
menjadi hiasan, dalam air matamu
yang melimpah raya

Karena mulai malam ini
Aku akan hadir menemani mimpimu

Dan ketika kau buka jendela, di sudut malammu
kan kau dapati secercah kejora
yang bersinar di puncak pohon cemara

Dan bagi mereka yang mendamba cintaku
Aku akan tetap hadir, hidup, bersinar
Dan terlahir sebagai cahaya

Cahaya, di puncak pohon Casuarina

Kamis, 18 Juni 2009

Taman Kanak-Kanak

Di taman ini
kami menjelma bunga
berlarian kesana-kemari
tertawa membuat warna

Di taman ini
bunga-bunga riang
belajar giat hati
supaya kuncupnya terkembang

Di taman ini
kami di siram setiap hari
air pengetahuan
lebih sejuk dari embun pagi

Di taman ini
kami temukan pada guru-guru kami
hakekat sebuah pendidikan
dan arti kasih sayang.

Di taman ini
taman yang terindah di hidup kami
taman kanak-kanak kami

Rabu, 28 Januari 2009

Sapu Lidi

Pohon nyiur bersimpang siur melambai-lambai seperti banci
mereka pergi dibawa oleh penjual-penjual ke pasar tradisi
di jual dengan harga yang murah itu hati nurani.

Satu waktu ku kumpulkan janur-janur
Teranyam berupa ketupat dan ku masukkan biji-biji semangat
Akhirnya, tersemat.

Lidi-lidi yang berderai sepanjang bentangan
Ku satukan dan terikat menjadi sapu lidi kesepakatan
Jalanan telah bersih dan debu-debu telah beterbangan melarikan diri dengan kibaran bendera kekalahan.

Maka ku ingatkan padamu sapu lidi:
Tetaplah menjadi sapu dan jangan pernah lepas ikatan diri.
Agar aku tetap pertiwi.

Senin, 22 Desember 2008

Pemburu Telah Diburu


Hutan kian hitam oleh dedaunan
Membuat semangat jelajahi setiap kelok rerimbunan
Aku sang pemburu dengan senapan terhunus
Bergerak maju untuk membidik sasaran.

Senapanku bukanlah sembarang
Kudapati sebagai pusaka warisan
Sekarang ada ditangan
Temurun semenjak moyang

Ribuan hektar hutan telah tertawan
Jutaan buruan telah ku nikmati
Tinggal satu hutan yang belum ku jelajahi
Hutan larangan

Di sanalah kini aku berada
Menghujamkan kerasnya cinta
Hingga tercecer sperma kenikmatan
Ketika napsu memburu dengan liar

“Dor..dor..dor..” terdengar suara letusan
ku lihat senapanku lemah terkulai
dengan peluru yang telah keluar
akupun mengerang seperti pesakitan

Ku berbisik pada rerimbunan ketika menjelang penghabisan
Ku ucap selamat datang pada ribuan kutuk kenikmatan
Dan sesalku terlambat ketika dosa menggelepar
Tertembus peluru senapan.

: “Pemburu telah diburu.” bisikku menjelang ajal.

Rabu, 17 Desember 2008

Ku Bunuh Puteraku

Inilah rabu (17 Des 2008) dimana mataku menyala
Merah darah bercorak api-api neraka
Bergejolak lautan kepedihan dalam badai-badai rasa yang bergemuruh serupa petir
Dan dilangit awan hitam menggantung berupa payung-payung nestapa

Ku lihat puteraku yang telah sempurna tercipta
Menggelepar-gelepar memohon nyawa
Tapi angin tak mampu menyingkap awan di langit hitam
Hingga akhirnya aku menyerah membiarkan
Satu anakku bersimbah darah
Dan dalam linangan airmata
Ku tikam ia (puisi) hingga hilang ruhnya.

Kamis, 11 Desember 2008

Cassuarina di Awal Tahun

Ini adalah mula dimana tertancap pohon natal kecil di sekeliling kebun cemara
Cassuarina lambang dari keagungan Tuhan
Selalu terkenang di awal tahun

Mungkin tidak bagimu,
Karena bisa saja Cassuarinamu adalah Februari, Maret atau mungkin juga di akhir Desember
Tapi bagiku Cassuarina adalah awal januari.

Saat pohon ini pertama tertancap dia tiada berdaun
Tapi waktu demi waktu dan pemahamannya tentang biologi mengajarkan bertahan
Hingga Cassuarina kini telah menjadi pohon yang rindang

Setiap orang hendak berteduh dibawahnya ketika sengatan mentari meninggi
Dahannya menjadi tempat bersarang burung-burung pipit dengan rumah gantungnya
Dan akarnya di hisapi para serangga.

Aku berdiri di pucuk pohon cemara mengibarkan sayap-sayap garuda
berseru dengan lantang dan menggemakan di batas angkasa
mengabarkan pada dunia bahwa aku adalah ada.

________
Terinspirasi dari novel "Cassuarina" karya Asri Prabosinta

Sabtu, 15 November 2008

Hikayat Penggali Kubur

/1/

Seorang penggali kubur menjadi hikayat
Cerita termasyur amat sangat
Dialah Udin si juru selamat
Tanpa hadirnya mayat-mayat tetap terangkat

Inilah bulan-bulan tak pernah manusia tenggelam
Dan Udin tersiksa karena uang telah silam
Maka otak kerdilnya berdaya
Agar upah cepat dia terima

Malam itu bulan bersembunyi dalam ketakutan
Riak-riak air tak lagi bergelombang
Angin berhenti menghembuskan nafas
Dan terlihat wajah pucat menghinggapi Udin yang lemas

“Lapar…lapar…lapar…”
teriaknya di keheningan malam
mungkin hanya alunan jangkrik
yang mendengar udin memekik.

Berlarilah Udin membawa parang
Dinaungi awan malam tanpa benderang
Bergegas menuju ujung kampung
Disanalah kiranya esok terlihat mendung

Lima mayat menggelepar
Si Udin kembali kenyang.


/2/

Dusun terpencil terasa kucil
Di rumahnya si Udin menggigil
Tak lagi ada makanan
Yang tertinggal hanya pakaian

Malam itu bulan bersembunyi dalam ketakutan
Riak-riak air tak lagi bergelombang
Angin berhenti menghembuskan nafas
Dan terlihat wajah pucat menghinggapi Udin yang lemas

“Lapar…lapar…lapar…”
teriaknya di keheningan malam
mungkin hanya alunan jangkrik
yang mendengar udin memekik.

berlarilah Udin membawa parang
Dinaungi awan malam tanpa benderang
Bergegas menuju ujung kampung
Disanalah kiranya besok terlihat mendung

Satu mayat terakhir menggelepar
Esok tak lagi ada yang menguburkan.

Jumat, 14 November 2008

Pencipta Kata

Mulanya berlidah tanpa suara, MEMBISU
kemudian belajar dari alam tentang huruf KEHIDUPAN
dan dari langit tentang huruf-huruf KEMATIAN
Ku gabungkan KEHIDUPAN dan KEMATIAN agar tercipta makna, "KATA"

: Sebagai sebuah peringatan Tuhan !

Minggu, 12 Oktober 2008

Topeng Rembulanmu

Dalam cahaya rembulan
Topeng indahmu segelap malam
berbalut wajah bidadari nan suci
berkerudung dalam kidung nan merdu

Tanggalkan saja pakaian malam
Ku dapat lihat kau telanjang badan
bukan maksud menggauli
Agar kembali menjadi Mentari

Prahara Rumah Tangga

Puisi Tantangan Kata:
Rumah – Gawang – Batu – Air – bingung – awan – Karma –
pohon – jendela – kerja – angan – sungkem – geming –
sedih – bunga – bintang – lengang – perih


Dalam jurang kesedihan
Ku coba larutkan asaku didalam lengang
Merapatkan hati yang teriris perih
Dari kisah cinta yang kini binasa

Ah, inikah karma
Karena ku mendua
Jendelamu tak lagi terbuka
Terkubur makin membatu didalam prahara

Bunga-bunga yang dulu mewangi di pepohonan
Tak lagi dapat ku raba lewat ciuman
Hanyalah menjadi angan
Dalam berjuta kebingungan

Cinta, akankah kulihat lagi bintangmu bercahaya
Setelah rumah hatimu porak-poranda
Di hancurkan oleh kelaliman sang jahanam
Dalam kerjanya membagi rupa dengan dua bunga ?

Maafkanku telah meneteskan air mata syurgamu
Yang selalu kau jaga dalam rumah bahagia
Kini terombang-ambing
Dan Kita tak mampu bergeming

Di gawang kehancuran cinta ini
Aku sungkem mencium hatimu
Agar engkau mau memaafkan
Dan membangun kembali rumah kita di atas awan.

Jumat, 10 Oktober 2008

Luvandraa, Cahaya Sastra yang Terluka

Segurat Noda ku gores di ujung pena
Sehujat penat mengiris hati sang sastra
Akankah kata berhenti cerca?
Ups... Ku terbawa gejolak Jiwa.

Keindahanmu bangkitkan kesadaran akan adanya kebebasan
Kau telanjangi aku dengan pesona karya
Akankah satu persatu pakaian tertanggal?
Ah... Ku mulai terpenggal.

Mohon dekatilah ku dengan rapat tubuhmu
Berkolaborasi dalam segenap maap yang kutunggu
Akankah kita bisa berpadu?
Duh... Hinanya aku.

Cinta Kita tetaplah padu
Cinta pena aku dan kamu
Akankah warna bersatu?
Ah... Kuharap kau mau.

"Luv, maafkanlah kemaujudanku"