Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 November 2009

Minum Anggur

Di malam perjamuan kudus
Kau tuangkan padaku secawan anggur
Yang kau perah dari pohon-pohon mimpi

Mimpi itupun mengendap didasar minuman
Ku teguk anggur itu dan kau berkata padaku
seolah membaca sebuah mantera : Tidurlah !!!

Seketika anganku melayang dengan ucapanmu
Ingin aku bertanya : untuk apa aku tidur ?

Mataku nanar, pikirku hilang dan akupun masuk kedunia mimpi
Dimana yang ada hanya aku dan engkau
Ditemani secawan anggur yang tak pernah habis-habis

Jangan bangunkan aku sayang !!! . Kataku ketika lelap.

Selasa, 19 Mei 2009

Qolb, Ruh, An-Nafs & Aql

pada setiap semesta menggantung sebuah saklar
menyimpan milyaran volt aliran listrik
menyebar getar lewat kabel-kabel
hingga lampu-lumpu menyala menjelma gemintang
menerangi semesta raya

alangkah congkak semesta yang beredar
tapi tiada peduli keberadaan pencipta
menganggap nyala abadi
dan berkata : “aku ada dengan sendirinya”

padahal bila Tuhan menghendaki
maka cukuplah dengan satu petikan nada
semesta tentu binasa

Sabtu, 21 Februari 2009

Makrifat Kama-sutra

Di bawah cahayanya cahaya
Kau telanjangi aku selapis demi selapis
Lalu Kau tunggangi keadaanku
Seperti sang kusir yang menunggang dan mencambuk kuda betina
Hingga akupun mengerang dalam sejuta kenikmatan

Di puncak gunung asmara
Tak lagi nampak gelap atau terang
terlupa sudah rupa surga dan neraka
hilanglah segala wujud nyata
Mengiring persetubuhan antara aku dan Engkau

Asmara ini telah ada seiring tembang asmarandana,
seiring tarian-tarian para sufiyah , seiring kematian para syuhada
Lalu kama-Mu dan kama-ku menyatu di dalam Asma(ra)
di antara ada dan tiada, diantara harumnya bunga kamboja
di antara terkoyaknya tabir rahasia sang-dara*
yang tertinggal hanyalah kata:

“La Illaha Illa An(t)a”

____________
*) sang-diri

Jumat, 20 Februari 2009

Kunang-Kunang

Kunang-kunang dalam temaram
Lupa membawa cahaya malam

Dunia bagaikan sebuah obor bercahaya
Mengundang kunang-kunang mendekat padanya

Kunang-kunang serakah
Terbakar menjadi arang

Jumat, 13 Februari 2009

Canda Sufi : Surah Mahabbatain

Kasihku…
Sudah ribuan surat Engkau layangkan
Telah ribuan nabi yang terutuskan
Bahkan telah jutaan kali pula aku berganti rupa dalam setiap kelahiran
Tapi tak sekalipun ‘ku dapat memandang ayu paras-Mu
Di setiap surat-Mu Engkau selalu berfirman:
“Aku adalah dekat, dan selama kau mencintai-Ku, Aku ada dihatimu.”

Kasihku…
Aku tak mau lagi membaca surat-Mu
Aku hanya mau Kamu, bukan surat-Mu
Biar kututup saja kitab suci
Dan kutaruh di laci lemari.
Tapi, tunggu dulu…!
Biarkan ku buka lagi surat-surat-Mu,
rasanya ada alamat rumah-Mu disana

Kamis, 08 Januari 2009

Kematian Si Pemabuk

Peminum Anggur terjerat dalam kemabukan
Ia terjatuh, terkapar, menangis dan tersenyum
Kadang hadir didunia kadang pula ruhnya mengangkasa
Telah dijalaninya hidup dengan meminum Arak yang paling kepayang

Hari itu aku melihatnya jatuh di jalan
Ku kukuhkan kedua kakinya agar berdiri
Dia berkata - biarkan sahaja aku jatuh, janganlah berdiri
Agar aku dapat menjerat sayap -

Kemarin aku melihatnya terkapar di sungai
Ku raih kedua tangannya hendak ku angkat ke tempat kering
Dia berkata - tetapkan aku di sungai, di sini terasa damai
Agar aku lupa daratan, karena didarat hati kan kering -

Aku melihat tubuhnya makin tenggelam
Ku lemparkan pelampung agar ia tetap mengapung
Lalu iapun menangis memandangku dengan iba
-Sahabat marilah kita menjadi para pemabuk yang tenggelam-

Iapun menghilang dalam kefanaan
Terbang dan terhanyut mengikuti arus sungai
Ku dengar tawanya berderai menghantar ajal
Hari inipun aku menangis karena ‘ku masih tertinggal

Sabtu, 27 Desember 2008

Sungai dan Muara

Untuk menghilangkan dahaga
ku telusuri dua aliran sungai yang telah mengisi muara
hingga bermuaralah air karena keduanya.

Bukannya aku tak puas tinggal sebagai penghuni muara
tapi bagiku napak tilas tiada mengapa
semoga saja di sungai-sungai itu ada terdapat suatu hakekat

Ku lihat ada orang-orang sedang menebarkan jala
"aku sedang menjaring ikan dan lihatlah tangkapanku." ujarnya
akupun mengerti dia sedang bekerja.

Di kedua aliran sungai itu kulihat pepohonan rindang di kedua sisi
pohon-pohon itu berasal dari biji-biji yang bertunas.
Kehadiran sungai telah menyuburkan tanaman.

Satwa-satwa terlihat berkembang biak, menari dan bernyanyi di peribadatannya
mereka senang karena dapat hidup di antara dua sungai
karena mereka dapat meminum maunah sungainya

Akupun menciduk air ditiap sungai dan meminumnya
dan mendapatkan rasa yang sama dengan air yang ada di muara
Barulah kudapati jawab sungai dan muara adalah mempunyai satu rasa.

: Akupun kembali ke muara, tanpa melupakan cerita.

Timur dan Barat

Ku datang pada-Mu dari arah lain
bukan ke barat tapi ke timur
menuju tempat dimana mula-mula mentari dilahirkan

Bilakah saat ini aku menuju Istana-Mu lewat pintu belakang
Maka terimalah aku yang tak santun bukan sebagai tamu
tapi pelayan-Mu sebagai sebuah hukuman kelancangan

Aku yang mencoba meyakini hakikatnya waktu
bahwa walaupun zaman berubah dan musim berganti
tapi kalam-Mu tetap terpelihara

Janganlah kelancanganku membalik waktu
menjadikanku kembali kepada zaman jahiliah tanpa cahaya
tapi biarkan ini akan menjadikanku kembali ke asal dimana mula aku ada

lewat sifat Ar-Rahim Mu aku berasal
maka biarkan engkau mengandung kembali diriku
dan ku serahkan perlindungan atas jalanku pada belas kasih-Mu.

Timur dan Barat adalah milik-Mu
kemanapun aku memandang disanalah kulihat wajah-Mu
tersenyum memandangku.

Jumat, 12 Desember 2008

Peninggalan dari Adam

Engkau adalah bapak dari kami umat manusia
Dan telah kau wariskan cara berbuat dosa
Tatkala kau kotori keindahan surga dengan nafsu bejat
Lalu engkaupun menjadi mahluk terhina
Terlemparkan dari surga

Lihatlah sekarang kamipun memakan buah yang sama
Berharap kekal menggapai kesenangan dunia
Tapi sedikit demi sedikit tiada sadar kami pasangkan bom atom di dasar bumi
Yang siap meluluhkan lantakan hati kami sewaktu-waktu
Lalu kami pun akan terlempar dari dunia


Engkau adalah bapak dari kami umat manusia
Dan telah kau wariskan do’a-do’a harapan
‘Tuk menghilangkan penyesalanmu pada Tuhan
Lalu Allah menjanjikan kembalinya surga
Sekembalimu dari tempat pembuangan

Setiap haripun kami rapalkan do’a
Agar tak usah lagi kami kembali ke surga
Karena dunia bagi kami adalah surga
Di sini kami bebas membangkang perintah-Nya
Ranah pembuangan ini telah begitu kami cinta


Engkau adalah bapak dari kami umat manusia
Dan telah kau wariskan cara menyembah Illah
Agar tiada pernah lupa akan ada-Nya
Bahwa Tuhanlah yang telah melahirkan manusia
Dari rahim-Nya

Sekarangpun kami telah menyembah
Berhala yang lebih terlihat oleh mata
Uang, kekuasaan, jabatan itulah Illah manusia
Karena kami merasa telah terlahir
Dari rahim sang-dunia.

: Tapi dalam hati, sejatinya kami tahu “ La Illaha Illallah”

Selasa, 25 November 2008

Tuhan Sang Pencipta Kejahatan

Aku adalah hitamnya ari
Hidup dalam sengatan mentari
Menjadikan ‘ku lupa diri

Hukum aku dengan lecutan cambuk api
Yang mendera seluruh sanubari
Agar mengelupas segala daki-daki dari kulit lelaki.

Deralah aku dengan murka
Mungkin dengan inilah ‘ku kan jera
Memandang lagi dunia dengan cinta

Darah merah biarkanlah teralirkan
Jatuh kebumi dalam kepasrahan
Dan sisakanlah darah putih yang membersihkan

Tuhan telah mencipta kejahatan
Agar aku belajar tentang kebaikan
Karena DIA mencintai ketaatan.

Jumat, 21 November 2008

Buah Dada Ibu

/1/

Bismillahirrahmanirrahiim.
Wa Idz ta adzdzana robbukum la in sakartum La aziidannakum,
Wa la in kafartum inna adzaabi la syadiid.
QS. Ibrahim (14):7


/2/

Dunia adalah buah dada ibu,
Disanalah aku belajar menyusu
Tapi naluri telah mempengaruhi
Bahwa ada buah dada lain yang harus dinikmati

Aku memang mencintai Ibu,
Sebabnya ‘lah aku tumbuh dan pengkuh
Tapi tak mungkin aku terus menete pada cintanya
Sementara kedewasaan mengajarkan ‘ku meniti kehidupan

Lewat bimbingan aku belajar berjalan dipagi hari
Lewat tangismu aku belajar artinya cinta-kasih
Lewat tatapan sendu ‘ku berani hadapi mentari
Sungguh rasa manis susumu akan tetap mengabadi

Engkau menyuruhku berjalan sendiri
Untuk aku mencari cinta sejati
Masih terngiang ceritamu tiap malam
Tentang adanya buah dada Tuhan

‘Kan ‘ku kecup buah dada Tuhan …


/3/

Adalah ku dapati buah dada Tuhan tak bersusu
Hal belum ku kecup kenikmatan dari persetubuhan
Sedihlah kini aku dalam keperjakaan.

“ Bu (dunia), tolong aku
ku tiada bisa tanpa susu
bolehkah kulumat kembali susumu?”

“Jangan anakku, bukankah kau telah dewasa
bilakah masih kau perah susu ibu, maka celakalah kamu.
Kerakusan ‘lah sebab keringnya buah dada.”

“Ingatlah, syukur mengendap dalam buah dada
Yang meruah seiring bertambahnya rasa
Walau t’lah penuh, tiada ‘kan tercecer kecuali kau hisap puting-Nya”

“Anakku, Pupuklah pohon syukurmu
Agar tumbuh subur cinta-Nya
Barulah kau ‘kan rasa bahagia, menikmati buah dada-Nya”

Ponpin, 21 November 2008

Jumat, 14 November 2008

KEKASIH yang Berdiri di atas Bukit

Harusnya kulemparkan saja kata-kata
ke dalam kanvas lukis.
Agar tak bisu walau lidah ini s’lalu kelu.

Lihatlah, dzat yang hina ini menatap keagungan
dan tiada mampu menjamah walau hanya memanggil nama.
sungguhpun ku hanya bermaksud memuja.

Aku bukan pujangga yang dapat merayu dengan pujian kata
pun bukan seorang pelawak yang membuat tergelak.
Hanya seonggok batu yang tak mampu berkata “Aku tergelincir dalam cinta.”

Maka biar saja aku diam dalam keabadian
memuja hanya dalam hayal.
Dan ku sembahkan cintaku teruntuk yang berdiri di atas bukit.

Jakarta, 14 Nopember 2008

Minggu, 02 November 2008

Dualitas

Photobucket
Aku berkata "aku"
dan DIA berkata "AKU"
maka haruslah mati salah satu
"aku" atau "AKU"

DIA berfirman : "AKU-lah yang Maha Abadi."
Maka aku yang harus mati
Agar AKU bersemayam dalam aku
Fana Insani



Assalamualaikum Wr. Wb.

Sesungguhnya manusia adalah Thagut (berhala) untuk dirinya sendiri karena dalam diri manusia terdapat sifat-sifat untuk menuruti kehendaknya sendiri dan melanggar perintah Allah SWT, maka sebaik-baiknya hamba adalah yang membunuh diri(ego)nya dan lebur kedalam kehendak Tuhan.

Allah bersabda dalam firmannya:
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu . Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." Al-Baqarah [2]:54

Dengan membunuh diri sendiri maka akan matilah Thagut (sesembahan) dan yang tinggal hanyalah Allah. Kita akan tetap hidup dalam kematian kita. Maka akan hilanglah aku dalam AKU. Perkataan kita akan menjadi Sabda-NYA, langkah kita akan menjadi Ridho-NYA, dan perbuatan kita selalu dalam naungan-NYA.

Demikianlah semoga ada manfaatnya.

Jakarta Selatan, 03 Maret 2008


Kuntet Dilaga

Jumat, 31 Oktober 2008

Manunggaling Kawula Gusti

Aku dan aku,
bersatu,
secangkir kopi panas.



---------------------------
Nb:
Dalam peleburan,
aku tak akan jadi Aku.
dan Aku tak mungkin jadi aku.
Hanya manisnya cinta yang terasa.

Jumat, 24 Oktober 2008

Ku Temukan Tuhan di Neraka

Kemarin malam datang telegram
Pesan singkat dari Tuhan
Tentang undangan persinggahan

Aku melaju ke taman surga
Penuh rupa bunga-bunga
Tak jua tercium harumnya

Pergi pula ke istana
Perabotan perak apik tertata
Indah nian tapi hampa

Ah, kenapa hampa?

Lalu kembali lewati shirat
Titian sebesar urat
ku waspada agar selamat

Tak dinyana terjerembab
Terjatuh ke neraka biadab
Yang dikutuk orang-orang beradab

Api membara melahapku
Hancur sudah jadi abu
Sudah tenang rasanya kalbu

Ah, kenapa tenang?

KU TEMUKAN TUHAN DI NERAKA)*

______________________
)* Surga tak lagi indah kalau Tuhan tidak disana.

Selasa, 14 Oktober 2008

Atap Rumah

Berbatas pandang tak terbatas awang-awang.
Tanpa topang beratap tanpa tiang.
Bercahaya dalam terang tapi indah dalam hitam.
ku terbuai dalam naungan.


Maha suci Allah yang telah menciptakan langit sebagai atap dan bumi sebagai permadani...

Senin, 13 Oktober 2008

KYAI

Terbit di Jurnal Sastra RuangMelati Periode Maret 2009

Pohon padi tunduk berisi, tapi bagaimana dengan Kyai?
makin berisi makin menjadi-jadi.

Mengaji... Mengaji... Teruslah mengaji!
Tapi apa yang terkaji, jika hati merasa suci.

Mengajar... Mengajar... Teruslah mengajar!
Tapi apa terpelajar, jika merasa paling benar.

Perintah... Perintah... Teruslah memerintah!
Tapi jangan hanya perintah, jika tak sudi buang sampah.

Singsingkan lengan baju, Jangan takut gamis ternoda.
Lepaskan terompah baru, berjalanlah tanpa mahkota.

:Surga di bawah telapak kaki, bukan dibesarnya kepala.

Minggu, 12 Oktober 2008

Hilang dalam Kelam

Di naungi pucat rembulan,
bersimpuh aku menunggu pagi,
mencengkram segala malam
dan membenamkan didalam lautan kehampaan.

Ribuan nestapa,
menjadikan ku pergi dari dunia,
tapi aku masih ada dalam tiada,
karena wujudku berupa.

Ah, andaikan malaikat maut menjemput,
tentu aku segera bersujud,
memohon segera tercabut,
dari dunia yang penuh hasud

Di kesunyian, aku tenggelam dalam lautan kefanaan
Sungguh, dalam tiada ku temukan ada

Menyambut Bulan Suci

Dimana pakaian gamisku
Yang kugantung di bulan-bulan lalu
Mau ku pakai diparuh waktu

Gerabah

Lempung basah
liat meliuk bentuk
gerabah si pencipta



Lempung basah tergeletak di sawah
Bercampur tahi dari tiap diri
Noda-noda peluh memberi sejuta rasa
Hingga lempung basah makin terhina

Pembuat gerabah mencoba ubah
Dengan tangannya coba perkosa
Sambil paksa dengan ilmunya
Maha seni serta rupa

Liat meliuk-liuk mulai terbentuk
Seonggok tanah mulai berwajah
Tapi tetap hitam-kelam
Kegelapan dimasa silam

Dengan jeritan gerabah lahir
Hadapi beban adalah dzahir
Tapi kini mulai terpikir
Tentang adanya tujuan akhir

Panasnya bara kuatkan rupa
Hingga suka merubah duka
Ketika ia mengenal pencipta
Wujudnya makin sempurna

- itulah kisah gerabah terindah
Gerabah sang Pencipta -