Tampilkan postingan dengan label bambang aradea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bambang aradea. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Oktober 2008

BAMBANG ARADHEA (PART V-TAMAT) "Akhir dari Sebuah Dharma"


Ibu,
Ku terlelap dalam dunia hitam kelam
Tertidur dalam penghinaan
Dan bayang-bayang penderitaan
Selalu menutupi jalan kehidupan.

Ibu,
Walau selaksa air mata kesedihan yang kau turunkan
Tak akan dapat menghalangi jalanku
Karena aku adalah yang terbuang
Maka biarkanlah tetap terbuang.

Ibu,
Hidupku kan ikut darma
Bukan untuk memihak keangkaramurkaan
Bukan pula memerangi kebenaran
Hanyalah membalas budi seorang sahabat
Yang telah memeluku saat ku tersayat.

Ibu,
Pabila nanti aku mati ditangan Arjuna
Ku terima kematianku dengan suka cita
Karena pandawa adalah Lima
Maka haruslah tetap Lima.

Ibu,
Maafkanlah aku
Cintaku kan tetap menyertaimu
Serta doa kan menyertai Saudaraku (Pandawa)
Dan semoga kebenaran selalu ada
Didalam hati para manusia



PART I PART II PART III PART IV PART V

BAMBANG ARADHEA (Part IV) "Adipati Karna Raja Angga"


Aku Radea
Putera Kusir yang Sudra
Adirata dan Radha

Ku ratapi diriku yang sudra,
Atas penghinaan para pandawa,
Juga penolakan drupadi
tatkala ku menangkan sayembara cinta.

dikala tangan duryodana terbuka
Kusandarkan harapanku pada Kurawa
Dan aku yakin akan tulusnya sahabat
Dari para penjahat.

Akulah Raja Angga
Sang Adipati Karna.



PART I PART II PART III PART IV PART V

BAMBANG ARADHEA (Part III) " Kisah Pandu "


Pandu dewanata raja astinapura gundah hati,
tak mungkin dia beristri
karena kutuk sang resi.
Kijang kencana elok rupa,
dipanah sedang bercinta,

matilah sepasang resi'
yang sedang di mabuk birahi.
Tapa brata ia lakoni,
minta petunjuk yang Widhi.

Datang wangsit dari dewa,
agar ikut sayembara,
Surasena raja Kuntiboja
sedang gelar sayembara.
Sayembara telah laksana
Pandu dewanata adidigjaya
laksana peristri Dewi Prita.

Prabu Salya murka,
tiada ngiring sayembara.
Tantang Pandu dewanata,
agar serah Dewi Prita.
Dewi Madri yang jadi undi,
agar kelak jadi istri,
kalaulah Prabu Salya kalah daya.
Tetaplah pandu adigjaya.

Dewi Kunti istri Dewanata,
rapal aji sejati rasa,
panggil dewa minta putera,
kelak disebut Pandawa Lima.
Yudistira, Bima, Arjuna,
Putera-putera perkasa kunti.
Nakula Sadewa,
sepasang putera Dewi Madri.

Pandu dewanata,
tak kuasa tahan asmara,
api birahi mulai meninggi,
bercinta dengan Dewi Madri,
lupa kutuk sang resi.
Pandu dewanata binasa,
karena hubungan asmara.

Madri sesali diri,
tak mampu tahan syahwati,
hingga hilang sang suami.
mencoba ratapi sedih,
cebur diri di api kremasi,
susul sang suami ke alam sorgawi.



PART I PART II PART III PART IV PART V

BAMBANG ARADHEA (Part II) " Kelahiran Manusia 1/2 Dewa "


Dewi Prita muram durja,
tak kuasa akan karma,
kandung jabang tanpa bapak.

Sang surya welas asih,
datang didepan sang kekasih
“Wahai Kunti Kasihku,
aku tahu kesusahanmu".

"kalau anak kita telah ada,
berilah nama KARNA,
sebab dia lahir ditelinga,
agar kesucianmu tetap terjaga".

"hanyutkanlah kesungai aswa,
alamlah yang akan jaga,
dan aku mentari akan awasi”

Tak lama Lahirlah KARNA,
putera sang surya,
badan bercahya,
titisan dewa.
Pakaian perang dia bawa,
bukti seorang perkasa.

Sungai aswa bawa cerita,
angin semilir ikut menyisir,
mentari pagi iringi buah hati,
dan peti terhanyut,
menyusuri jalan hidup,



PART I PART II PART III PART IV PART V

BAMBANG ARADHEA (Part I) " Kisah Cinta Dewa Surya"



Kunti,
Sang dewi rapal mantra sejati,
Dengan ketulusan hati,
Hingga getarkan langit dan bumi.

Sang Surya penguasa langit nan perkasa,
Tergetar karena doa-doa,
Terpana akan pesona,
Sang dewi nan cantik rupa.

Birahi Melanda,
Rasa Cinta Membara,
Dua insan bersatu,
Dalam kelambu biru.

Sang surya harus laksanakan darma
Kembali ke angkasa
dengan cahaya yang membara,
sinari dunia,

Dewi Kunti ratapi diri,
Dengan apa tutupi diri,
Hanya pasrah pada Illahi,
Kelak lahir Ksatria Sejati



PART I PART II PART III PART IV PART V