Tampilkan postingan dengan label puisi hitam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi hitam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2009

Mantra (Sajak Sesat) : Pengasihan Si Burung Pemikat

/1/

Asihan aing si manuk pikatan
Mikat sagala rasa tresna manusa
Sora aing sora seruling
Bulu aing warisan ti sutra

Geura euntreup dina hateup
Sabab didieu anjeun netep tur neuteup
Geura asup kana kandang
Sabab di dinya anjeun tandang tur ngandang

Nya aing manuk pikatan
Ngajebak manusa kana napsu setan
Nya aing manuk pikatan
Ngajak manusa kana kamaksiatan

Nya aing si manuk pikatan
Hayu urang mohokeun pangeran !!!


/2/

Pengasihanku si burung pemikat
Mengikat semua rasa cinta
Suaraku suara seruling
bulu warisan dari sutera

Marilah hinggap dalam atap
Sebab disini kamu menetap dan melihat
Silakan masuk ke dalam kandang
Sebab di sana kamu datang dan mengandang

Inilah aku burung pemikat
Menjebak kedalam napsu syetan
Inilah aku burung pemikat
Mengajak kedalam kemaksiatan.

Inilah aku si burung pemikat
Mari kita lupakan Tuhan !!!

Senin, 13 Oktober 2008

KYAI

Terbit di Jurnal Sastra RuangMelati Periode Maret 2009

Pohon padi tunduk berisi, tapi bagaimana dengan Kyai?
makin berisi makin menjadi-jadi.

Mengaji... Mengaji... Teruslah mengaji!
Tapi apa yang terkaji, jika hati merasa suci.

Mengajar... Mengajar... Teruslah mengajar!
Tapi apa terpelajar, jika merasa paling benar.

Perintah... Perintah... Teruslah memerintah!
Tapi jangan hanya perintah, jika tak sudi buang sampah.

Singsingkan lengan baju, Jangan takut gamis ternoda.
Lepaskan terompah baru, berjalanlah tanpa mahkota.

:Surga di bawah telapak kaki, bukan dibesarnya kepala.

Minggu, 12 Oktober 2008

2,5 - 2.5 = 0

Satu yang mengganjal pemikiranku,
Apakah mustahiq berkewajiban membayar Zakat Fitrah?

2,5 terbayar sudah
dari cucuran jerih payah
hartaku habis punah

Amil menenteng 2,5
Mengetuk pintu rumah
Ku terima jatah

2,5 – 2,5 = 0

Ketika Naik Bus Trans Jakarta

Ketika naik bus Transjakarta
Mata liarku menyelinap mengintip payudara disana
Ingin rasanya aku menetek susu itu
Seperti kenangan masa kecil dulu

Ketika naik bus Transjakarta
Jiwa lelakiku berontak
Melihat pusar wanita yang terbuka karena modisnya
Teringat suasana disaat aku masih bersatupadu dengan tali-plasenta

Ketika naik bus Transjakarta
Pikiranku yang kotor menerawang memandangi kewanitaannya
Hingga timbul kerinduan akan pesona gua garba
Dimana aku mulai mengenal dunia.

Ketika naik bus Transjakarta
Aku teringat kasih bunda.

_____________________________
Puisi ini di cloning dari karya Dharmadi

Wanitaku

Wanita sebotol anggur
pabila di teguk
Aku ambruk

Wanita secawan madu
Bibirnya semanis susu
aku selalu dirayu

wanita pabrik gincu
senyumnya penuh tipu
hidupmu jadi benalu

wanita tempat maksiat
walau sekarat ku rasa nikmat
karenamu aku tak mau tobat

wanita berwajah iblis
manis tapi bengis
kantongku makin tipis

wanita racun dunia
aku muntah
saat ingat mereka

Pergilah kasih,
Aku ingin sendiri,
menyepi.

Akankah Aku (setan) Masuk Surga?

Aku adalah hamba yang berserah
Sejak awal penciptaan ku selalu pasrah
Ku ada dalam darah para pemarah
Dan aku menimbulkan amarah

Tak pernah terfikirkan hidup sebagai setan
Merasuk di jiwa manusia dalam kesesatan
Tapi itulah tugasku dari Tuhan
Sebagai godaan untuk insan.

Ah, andaikan aku boleh menggugat,
Kenapa aku di hukum berat
Hal Iblis yang bermaksiat
Lalu aku ikut terdamprat
Kakek Iblis memanglah laknat

Aku capek menggoda manusia
Andaikan di ijinkan ingin sejenak aku moksa
Tertidur di langit-langit dunia
Sambil memimpikan keindahan bidadari surga

Setelah ku jalankan perintah-Mu
Akankah aku masuk surga?

Ahmadiyah juga Islam, Kawan!

Dalam balutan sorban
Wajah iblis menyeringai mengagungkan Tuhan
Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar…
Memekak genderang telingaku yang dari tadi terjaga.

Aku hanya diam mendengar lolongan-lolongan setan
Meneriakan sumpah serapah kepada malam
Aku memang kelam
Tapi aku masih punya Tuhan

Wahai manusia yang mengaku penjaga syareat
Mengapa kau halangi kami Sholat
Hal kamipun baca Sahadat
Dan kami adalah sahabat

Kenapa tak kau hancurkan saja agama berhala
Yang telah nyata kekafirannya
Malah kau makan sepiring dengan mereka
Mengatas namakan kerukunan beragama.

Ingatlah Iblis si ulama pertama,
Dalam ibadahnya mengaku paling sempurna,
Hingga timbul kesombongannya
Dan akhirnya durhaka jua.

Sementara halangi aku berhaji
Kau pegang pisau belati
Bunuh diri ke ulu hati
Mati.

Apakah aku tak berhak menyembah Illahi?

Jumat, 10 Oktober 2008

Dosa & Cinta

Di pucuk pohon cinta,
menggelayut kerinduan akan kehadiran bidadari malam,
masih teringat jelas saat kau basuh airmataku,
masih ku ingat gelak tawamu, isak tangismu,
dan berjuta rasa yang kita bina.

Malam ini aku terkurung dalam bayanganmu,
terbelenggu akan belaian yang selalu kudamba siang malam.
Ingatkah kau dimalam itu ketika hati kita berpadu, ketika raga bersatu?
Disaat erangan-erangan kita berpeluh dosa
yang terucap hanya ya dan tidak.

Ingatkah kau disaat malam hening,
yang terdengar hanya detak jam dinding?
didalam sepi kau katakan
“malam ini hanya kita berdua yang terjaga.”,
saat itu dunia milik bersama.

Cinta,
di kala istriku tak ada,
marilah kita berdansa !