Senin, 22 Desember 2008

Pemburu Telah Diburu


Hutan kian hitam oleh dedaunan
Membuat semangat jelajahi setiap kelok rerimbunan
Aku sang pemburu dengan senapan terhunus
Bergerak maju untuk membidik sasaran.

Senapanku bukanlah sembarang
Kudapati sebagai pusaka warisan
Sekarang ada ditangan
Temurun semenjak moyang

Ribuan hektar hutan telah tertawan
Jutaan buruan telah ku nikmati
Tinggal satu hutan yang belum ku jelajahi
Hutan larangan

Di sanalah kini aku berada
Menghujamkan kerasnya cinta
Hingga tercecer sperma kenikmatan
Ketika napsu memburu dengan liar

“Dor..dor..dor..” terdengar suara letusan
ku lihat senapanku lemah terkulai
dengan peluru yang telah keluar
akupun mengerang seperti pesakitan

Ku berbisik pada rerimbunan ketika menjelang penghabisan
Ku ucap selamat datang pada ribuan kutuk kenikmatan
Dan sesalku terlambat ketika dosa menggelepar
Tertembus peluru senapan.

: “Pemburu telah diburu.” bisikku menjelang ajal.

Rabu, 17 Desember 2008

Ku Bunuh Puteraku

Inilah rabu (17 Des 2008) dimana mataku menyala
Merah darah bercorak api-api neraka
Bergejolak lautan kepedihan dalam badai-badai rasa yang bergemuruh serupa petir
Dan dilangit awan hitam menggantung berupa payung-payung nestapa

Ku lihat puteraku yang telah sempurna tercipta
Menggelepar-gelepar memohon nyawa
Tapi angin tak mampu menyingkap awan di langit hitam
Hingga akhirnya aku menyerah membiarkan
Satu anakku bersimbah darah
Dan dalam linangan airmata
Ku tikam ia (puisi) hingga hilang ruhnya.

Sabtu, 13 Desember 2008

Hadirmu Bukan Untukku

:Gheta Pratama

Sedetik lagi akan kudengar lantunan syair keindahan
Yang kau suarakan untuk memanggil ribuan tawon pembawa aksara
Dan aku disini yang t’lah lama menantimu
Hanya mampu termangu dalam kesendirianku

Sekaranglah waktu dimana seharusnya aku mengukir rindu
Dengar kugoreskan namamu di langit biru
Tapi rindu telah menguap selaksa awan kelabu
Lalu apa yang bisa aku tulis bila tintaku telah habis tertumpah di mata pena-ku

Inilah sandiakala disaat engkau menghibur mereka yang sedang haus kata,
Tapi aku sudah terlalu busung untuk dapat meneguk segelas air
Yang mungkin ‘kan kau tawarkan untuk menghilangkan dahaga
Maka biarkan saja aku mengering dalam kerontangnya tanaman di musim gersang

Walau tidak untukku, tapi hadirmu di atas awan akan sangat menyejukanku
Mungkin aku tiada akan memandang ke angkasa
Tapi hatiku tetap akan memandang ke kiblatmu
Karena namamu ada di sana.