Senin, 18 Mei 2009

Teruntuk Sepasang Mata Tak di Kenal

Kebetulan kita bertemu sebagai dua orang asing yang bertemu
Kekaguman ku pun berjalan juga di jalan itu
Pada mata yang tak pernah berkata

Namun dimata mu lah
Dalam lindup bayangnya
Kan terselubung ribuan tanya : “siapakah aku?”

Tanyakanlah kepada penjuru negeri tentang aku
Tak akan ada jawabnya
Lalu tanyalah pada matamu
Dengan bola matanya yang berbinar
Maka akan tergambar dipelupuk hatimu
Wajahku

Kekagumanku adalah duka
Dan engkaulah duka itu
Telanjang, tak berselubung
Kesedihan dan kebisuan
Mengungkung penyair yang bergulat habis-habisan
Karena puisi ialah orang asing di negeriku
Dibunuh ketidak berdayaan

Lusa…
Jika kita bertemu
Bila mataku memandang matamu
Yang anggun, hijau, tenggelam dalam kabut dan hujan
Jika kita bertemu di jalan
Maka akan ku cium jalan itu, ku cium dua kali.

Rabu, 13 Mei 2009

Gadis Penyiram Bunga

Gadis kecil sedang menyiram bunga
Tak sadar ia bila bunga itu semisal dia
Setiap kali ia menyiram bunga
Tubuhnya basah, matanya basah, hatipun basah

gadis itu selalu menyiram bunga
Entah sampai kapan tubuhnya kuyup

Ini bukan kesenangan,
menyiram bunga adalah seni
untuk tetap mengenang
masa lalu yang tak bersemi

lalu datanglah angin
hendak menebar benih
di kelopak matanya sepi

adakah angin datang menyingkirkan awan
ataukah angin hendak menggugurkan bunga
gadis kecil tak tahu

ia hanya merasakan
angin itu sepoi-sepoi

Sabtu, 09 Mei 2009

Cincin Kalimusodo Versus Jimat Kayu

Wahai engkau Mawar Biru
engkau bertanya pada kami tentang Jimat Kalimusodo
Cincin ini masih ada dijari manis kami
lihatlah masih mengikat erat
Cincin Kalimusodo adalah suatu lambang pernikahan dengan Tuhan
Muhammad sebagai saksi penyatuan

Tapi tahukah kau sahabatku
kesulitan apakah yang kami dapat setelah Ijab Kabul?
Adalah tentang kesetiaan
apakah kami akan tetap setia
ataukah akan datang suatu masa
dimana mata kami akan silau memandang wajah lain

Bilakah di suatu jaman cobaan itu datang kepada kami
maka sungguhlah kami takut akan terkena bujuk rayu
dari para sales yang pandai merayu
menawarkan Jimat dari dahan cemara
yang sebenarnya tidak bertuah
tapi karena bujukan yang memperdaya
banyak diantara kami yang melepaskan cincin kami
dan menggantinya dengan Jimat kayu

Tahukah engkau,
satu-satunya yang kami perlukan
untuk menangkal bujuk rayu mereka adalah kamu
karena durimu adalah racun bagi para sales itu
dan warnamu adalah bukti kesetiaan kami